Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sedalam ~ itu

Aku kini berada dalam fase berbaikan dengan takdir, sudah tak menggebu - gebu seperti dulu. Apa aku menyerah untuk berjuang ? Bukan, aku tidak menyerah. Aku merasa memahami hari ini dengan baik, mensyukuri hari ini dengan ikhlas lebih menjadikan diriku rileks dan santai. Meskipun, karenanya satu atau dua kebiasaan yang terbiasa dilakukan agak tertinggal. But, it's okey kok. Sedikit demi sedikit aku mulai merasa maklum kalau diriku tidaklah sempurna dan se-overpower karakter dalam film animasi maupun superhero di serial marvel. 


Spring 2022


Aku manusia biasa, dan sepertinya menjadi manusia biasa itu bukanlah sesuatu yang biasa. Istimewa. You can life like average people in the world. Kamu bekerja, bersosialisasi dengan teman, makan bareng dengan teman, tidur bersama pasangan. Hidup bahagia bersama anak dan keluarga. Jadinya lebih indah aja duniamu. 


Dibanding 2 tahun yang lalu, aku merasa diriku sudah lebih acuh terhadap duniaku sendiri. Mungkin ini efek dari pendewasaan dari sikap pribadi akibat bertambahnya umur. Makin kesini, makin tau. Mana yang baik dilakukan lebih dahulu, mana yang belakangan. Mana prioritas mana bukan. 


Mungkin idealismeku sudah sedikit tergeser, bukan dengan mengubah apa yang aku tidak suka. Menjadi memaklumi apa yang aku tidak suka untuk menjadi lebih nyaman karenanya. 


Sebahagianya manusia sejatinya hanya diberi oleh Tuhan. Bukan karena Manusia itu sendiri. Aku bisa menulis inipun, berkat dari rahmatNya untuk menulis dan memberikan waktu untuk menulis. Bahagia ? Tentu, bahagia adalah tentang rasa syukurmu terhadap hari ini, keadaanmu sekarang, dulu maupun nanti.


If Allah SWT have you takdir untuk bekerja di luar negeri, menjadi international worker dan masyarakat dunia. Terima aja. Jauh dari keluarga, Mama Ayah dan Adeku yang selama 20 tahun lebih aku tinggal bersamanya. Kini sudah lebih dari 3 tahun aku tidak pulang, bersua denganya, mencium tanganya, memeluk pundaknya. 


Berat ? Hmm lumayan. Siapa sih yang tak berat untuk tidak rindu kepada keluarganya. Tentu aku dan teman - teman sangat rindu. Lantas kenapa belum pulang ? Berbagai macam alasan kami punya untuk mengundur kepulangan. Utamanya karena kepalang tanggung kontrak udah hampir usai lanjut pulang. Tapi, tetap saja rasa rindu pada keluarga sangat terasa. Terlebih pada momen idul fitri yang kami rasakan berbeda dibanding tahun sebelumnya.


Meski demikian, kami bersyukur. Di momen yang sebelumnya kami menjadi tangan dibawah, hari ini kami bisa menjadi tangan diatas untuk saudara, kakek, nenek dan keluarga yang lain untuk berbagi kebahagiaan idul fitri melalui perpanjangan tangan orang tua kami.


Menjadi seperti ini hampir tak terbanyang bagi remaja 18 tahun kala lulus SMK itu. Tapi, takdir punya lain cerita. Kami di taruh untuk bersujud di bumi Allah yang lain. Menjadi anak - anak pelopor sujud di bumi Allah yang lain. Salah satu khidmad mungkin yang paling terkenang selama masa muda adalah khidmad di negeri atheis ini. 


Allah selalu punya rencana terbaik, untuk hambanya yang selalu positif thinking terhadapnya. " Aku tergantung prasangka hambaku " . Bunyi ayat itu yang terkenang dalam fikiran alam bawah sadar untuk stay positif thinking menghadapi indahnya kehidupan ini 🥰



Posting Komentar untuk "Sedalam ~ itu"